You are here: Sejarah Singkat Penduduk Jepang
jSharing - JA Teline III

Kependudukan Jepang

Pada 5 maret 1942 Batavia jatuh ke tangan tentara jepang. Tanggal 9 Maret 1942 Pemerintah Hindia Belanda resmi meyerah tanpa syarat kepada tentara Dai Nippon. Kedatangan jepang ke Indonesia membawa dampak timbulnya semangat kebangsaan dan harga diri pada masyarakat, khususnya para pemuda Indonesia. Sehingga mendorong dan menimbulkan semangat untuk berjuang mewujudkan Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Sementara pihak jepang, begitu menguasai Indonesia langsung mengeluarkan Undang-undang No.42 Tahun 1942 tentang perubahan Tata Pemerintahan Daerah. Berdasarkan Undang-undang ini Batavia yang tadinya hanya Kota Keresidenan berubah menjadi Kota Istimewa / Luar Biasa (Tokubestu Shi) dan langsung di bawah Kepala Pemerintahan Tentara Jepang (Gunseiken). Salah satu tugas pentingnya melaksanakan pemerintah dan sekaligus pengawas Kepala Kantor Besar Polisi Jakarta.

Kemudian Kepala Pemerintahan Tentara Jepang melalui Surat Maklumatnya menyatakan, mulai 8 Desember 1942, tepatnya pada hari pembangunan Asia Raya mengubah nama Batavia menjadi Jakarta, Memang, di awal pendudukannya, Jepang banyak mengubah system pemerintah yang dilakukan Belanda, walaupun tidak meyeluruh. Namun, stuktur dan susunan organisasi instansi masih banyak mengacu kepada peninggalan Belanda.

Demikian juga dengan kepolisian, Jepang membentuk Kantor Pusat Kepolisian di Jl. Juanda, Jakarta. Kantor pusat ini membawahi berbagai cabang sekolah-sekolah kepolisian dan badan-badan lain yang diangap perlu pada masa itu. Adapun organisasi Kepolisian yang di bentuk Jepang di Jakarta ialah Jawatan Kepolisian Negara (Keimbu) di Jl. Juanda. Kepala jawatannya dijabat Keisi R Kahar Koesman Sosro danukusumo.

Di Jakarta terdapat dua bagian Badan Kepolisian yang mempunyai wilayah tugas berbeda. Yaitu Kepolisian Istimewa Jakarta Kota dan Kepolisian Keresidenan Jakarta. Kepolisian Istimewa Jakarta Kota (Jakarta Tokubetsu Shi Keisatsu Sho) disamping Keisi Mas Rangga Sutandoko, yang membawahi tujuh seksi dan lima kantor polisi luar kota, yakni:

 Seksi Tanjung Priok
 Seksi Glodok / Pesing
 Seksi Pasar Baru
 Seksi Jati Baru/karet

 Seksi Prapatan / CempakaPutih
 Seksi Menteng
 Seksi Jatinegara

 Seksi Polisi Bekasi
 Seksi Polisi Depok
 Seksi Polisi Pasar Minggu / KramatJati
 Seksi Polisi Tangerang
 Seksi Polisi Kebayoran / Pal Merah

Kepolisian Keresidenan Jakarta (Jakarta Sun Keisatsu Sho) dipimpin oleh Kaisi R Said Tjokrodiatmodjo. Wilayah tugas meliputi:

 Balaraja
 Curug
 Mauk
 Tangerang (Luar)
 Bekasi (Luar)
 Kebayoran Lama
 Cikarang
 Cikampek
 Subang
 Pegaden Baru
 Pamanukan
 Sukamandi
 Segala Herang

Disamping membentuk badan-badan kepolisian dari tingkat pusat sampai tingkat daerah, jepang selanjutnya mengangkat Putra-putri Indonesia untuk menduduki jabatan-jabatan penting di kepolisian. Walaupun mereka diberikan jabatan Kepala Polisi, Jepang tidak melepaskan begitu saja kekuasaannya. Terbukti, Jepang mengangkat seseorang dari Kepolisian jepang sebagai Kempetai (semacam provost). Tugasnya, untuk mengawasi segala pelaksanaan tugas setiap Kepala Polisi Keresidenan, Kepala Polisi Kota dan Luar Kota serta kepa seksi-seksi dan sub seksi-seksi. Kempetai bergerak tidak di bawah pimpinan Kepolisian Kota Jakarta.

Setelah Jepang menyerah pada Sekutu, pada 19 Oktober 1949 di Gambir Timur No. 18 Jakarta diadakan persetujuan antara Polisi Jakarta yang diwakili oleh Kepala Polisi Jakarta M. Sidik Adisaputra dengan pimpinan Militery Police Sekutu, yang diwakili Mayor Harding, Kapten Smith, Mayor Masse, dan Kapten Baules. Intinya menghasilkan kesepakatan tentang kewenangan Polisi Jakarta di dalam tugasnya mengamankan Kota Jakarta. Ternyata kesepakatan ini tidak ditepati. Terbukti, banyak insiden dilakukan oleh MICA.

Lalu pada 17,18,19 Nopember 1945 Inggris / NICA menggerakan pasukan yang kuat dengan menggunakan tank-tank dan mobil berlapis baja, untuk membersihkan kawasan Senen, dengan sasaran utamanya Balai Muslim dan kantor polisi di Prapatan. Pertempuranpun tidak dapat dihindarkan dan menjalar keseluruh kota Jakarta, Petamburan, jalan Hotel Des Indes Capitol, Senen, Jatinegara, Tanah Tinggi, Raden Saleh, Cikini, Tanah Abang, Kebon Sirih, Petojo Jaga Monyet, dan lainnya. Pertempuran di Kota Jakarta ini merupakan salah satu aksi perjuangan tersebar dan terakhir di dalam Kota Jakarta.

Penyerbuan tentara Inggris / Belanda mencapai puncaknya pada 29 Desember 1945. Semua kantor - kantor lain di Jakarta dikepung serta diduduki Inggris. Kemudian senjatanya dilucuti dan beberapa anggota polisi Indonesia yang berada di jalan pun ditangkapi. Mereka kemudian ditahan di Kantor Besar Polisi Jakarta, termasuk diantaranya Kepala Kepolisian Negara (KKN) RS Soekarno bersama ajudannya IP II Subianto. Setelah adanya penolakan kerja sama antara Polisi Rl yang disampingkan R Said Soekanto Tjokrodiatmodjo kepala Komisaris Besar Polisi Belanda Noordhoorn,

Sejumlah polisi Indonesia yang ditangkapi dibebaskan tanpa melalui proses pemeriksaan. Sebagian lagi tetap ditahan dan baru dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan Rl.

Setelah membubarkan polisi Republik Indonesia di Jakarta sebagai gantinya Belanda membentuk Polisi International yang disebut CP (Civil Police). Tugasnya untuk menjaga keamanan dan ketertiban di Jakarta. Anggotanya terdiri dari orang Inggris, Belanda dan Indonesia, dengan masing-masing kekuatan 300 orang. Mereka ditempatkan di bagian-bagian terpisah dan menangani secara tersendiri perkara-perkara yang ada. Polisi dari Inggris bernama Letnan Kolonel Harding dibantu Komisaris Polisi Yusuf Martadilaga dari Polisi Republik Indonesia, dan Noordhoon Letnan Kolonel Kooistra dari Belanda.

Dengan bantuan tentara sekutu / inggris, dalam waktu singkat Belanda / NICA berhasil memperkuat kedudukannya di Jakarta. Daerah-daerah yang telah dikuasai Inggris secara berangsur-angsur dialihkan ke tangan Belanda. Sehingga posisi tentara Belanda di Jakarta semakin kuat saja. Sebaliknya Pemerintah Rl semakin terjepit.

Melihat keadaan Jakarta semakin panas, setelah adanya percobaan pembunuhan terhadap Perdana Menteri Sutan Syahrir oleh golongan ekstrimis Belanda, pada 2 januari 1946 petang, Pemerintah Rl mengambil keputusan untuk mengungsikan Presiden dan Wakil Presiden berserta keluarganya ke Yogyakarta. Lalu, Kepala Kepolisian Negara memerintahkan secara rahasia kepada Inspektur PoIisi II Mardjaman agar mengawal Presiden dan Wakil Presiden berserta keluarganya naik kereta api menuju Jawa Tengah. Inspektur Polisi Mardjaman berserta wakil Inspektur Polisi II Winata dengan satu seksi pasukan Polisi Istimewa melaksanakan tugas tersebut secara rahasia. 

Saat bersamaan disetiap daerah yang didatangi pasukan Sekutu selalu terjadi insiden yang mengakibatkan pertempuran antara tentara Sekutu dengan Polisi Indonesia, yang dibantu rakyat Indonesia. Sementara intelejen Kepolisian Indonesia mendapat informasi bahwa Kemerdekaan Rl tidak akan diakui pihak Sekutu. Mendengar informasi tersebut tokoh-tokoh Kepolisian Rl mengadakan rapat untuk menentukan sikap terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi. Sikap Kepolisian Jakarta sendiri tegas dan jelas, yakin hanya mengakui kekuasaan Negara Republik Indonesia. Komisaris Polisi I R Kahar Koesman Sosrodanukusumo yang dipekerjakan Kejaksaan Agung dipilih untuk memimpin utusan yang akan memenuhi pimpinan tentara Inggris guna memberi penjelasan tentang sikap Kepolisian Rl.

Komisaris Polisi I R Kahar Koesman Sosrodanukusumo berhasil meyakinkan pimpinan tentara Inggris tentang kesungguhan sikap dan tekat Kepolisian Rl dan sebagai hasil-hasilnya ialah bahwa Kepolisian tetap menjalankan tugasnya dengan tetap memiliki alat-alat persenjataannya. Adapun tentara Jepang lambat laun di tarik dan diganti oleh tentara Inggris dengan Polisi Militernya, yang terdiri dari bangsa Inggris, India, dan Gurkah " Disamping membentuk badan-badan kepolisian dari tingkat pusat sampai tingkat daerah, Jepang selanjutnya mengangkat Putra-putri Indonesia untuk menduduki jabatan-jabatan penting di kepolisian.

Walaupun mereka diberikan jabatan Kepala Polisi, Jepang tidak melepaskan begitu saja kekuasaannya"
Meski sekutu terus melakukan tekanan, pasukan Polisi Istimewa jawatan Kepolisian Negara Yang dipimpin Komisaris Polisi II Kenapi ditugaskan untuk menjaga keselamatan Presiden, Wakil Presiden, para mentri, dan Kepala Kepolisian Negara. Sementara Kepolisian kota Jakarta ditugaskan menyelengarakan dan memelihara keamanan serta ketertiban dalam Kota. Sedangkan Kepolisian keresidenan Jakarta menyelenggarakan pimpinan atas kesatuan-kesatuan polisi di seluruh Keresidenan Jakarta.

Jadi, dalam tiap-tiap Keresidenan Polisi dikepalai seorang Korpschef, yakni Kepala Polisi keresidenan. Kepala Polisi membawahi semua kepala polisi yang ada di lingkungan keresidenan, baik yang disebut Kepala Polisi Kabupaten, Kepala Polisi Luar Kota, Kepala Polisi Kota atau Kepala Datasemen. Sedangkan Kepala Polisi Keresidenan berada dibawah pengawasan teknis dari kepala Penilik Kepolisian, yang dibentuk di tiap-tiap propinsi.