You are here: Perpus Terorisme: Masalah Definisi
jSharing - JA Teline III

Terorisme: Masalah Definisi

Terrorism: Definitional Problem (Terorisme: Masalah Definisi)

Von Clausewitz (1976) menyatakan bahwa terorisme adalah sarana lanjutan politik. Dalam arti lain, isi politis tindakan kekerasan teroris memisahkannya dengan kekerasan pelaku tindak pidana yang biasa seperti pembunuhan, penculikan, pembajakan, perampokan, pembakaran, dan pemerasan, semuanya dilakukan dengan frekuensi yang jauh lebih besar yang dilakukan oleh "non teroris" dengan motif sederhana mengenai pembalasan, keuntungan ataupun nafsu, motivasi yang bersifat politis, tujuan, dan asal kelompok teroris adalah karakteristik yang paling penting bersama dengan kelompok lainnya seperti; PIRA, Sendero Luminoso, RAF, PFLP, Brigade Merah, Sikh Ekstrimis, WUO, JDL, dan berbagai kelompok neo fasis.

Tentu saja ada karakteristik yang mencirikan terorisme dari bentuk tindak kekerasan lainnya. Wilkinson (1976) mengidentifikasi sebagai berikut:

1. Sistematis penggunakan pembunuhan, luka-luka / kerugian, atau ancaman untuk mencapai tujuan akhir, contoh penekanan pemerintah, kegiatan revolusioner, atau pengenalan.

2. Fokus, arah, dan tujuan terorisme adalah untuk menciptakan ketakutan, ketidaknyamanan dan panik.

3. Terorisme tidak terpisahkan secara acak dan tidak pandang bulu. Terorisme sengaja menyerang target warga sipil (bukan prajurit). strategi ini menyebarkan ketakutan, karena tidak memiliki target khusus. Oleh karena itu, tidak seorangpun akan merasa aman, dan indidisu tidak dapat menghindar menjadi korban. Strategi terorisme diarahkan pada target-target "lunak"

4. Terorisme menggunakan metode penghancuran liar/acak seperti bom mobil, bom paku, dan bom ganda adalah yang paling disukai. Terorisme tidak mengenal aturan atau kebiasaan berperang.

5. Terorisme lebih bersifat ekspresif dari kekerasan, begitupun, terorisme membutuhkan pendengar dan media. Tanpa media, teroris merupakan latihan yang sia-sia.

6. Tindak pidana terorisme direncanakan dengan baik dibandingkan dengan tindak pidana yang dilakukan secara spontan oleh pelaku tindak pidana.

Dimensi politis terorisme mengacaukan usaha kita untuk mempelajarinya dalam pertunjukan ilmiah. Kata "Terorisme" sendiri terisi sia-sia dan secara normal diterapkan untuk kegiatan yang mana tidak kita setujui. Bahkan mereka yang mempraktekkan terorisme dan siapa yang secara terbuka mencari kredit dengan pengeboman, pembajakan penerbangan, pembantaian, dan lain tindakan penjahat kejam disukai untuk dikenal oleh orang lain, sebutan yang lebih rendah seperti pejuang kemerdekaan, gerilya, bekas tentara, revolusioner, pemberontak, atau tentara pembebasan nasional. Kata Terorisme dapat menghasilkan emosi ekstrem sebagai bagian dari reaksi dari tindak pidana dan rasa ketakutan yang berhubungan dan merupakan bagian dari unsur filosofis.

Pencarian sebuah definisi kedua yang cukup ringkas dan menyediakan pendapat analitis, namun untuk memperoleh persetujuan pendapat umum terbebani oleh kompleksitas dalam debat. Sebagai hasil dalam masalah ini, banyak pengamat dan analis mendekati masalah definisi ini dengan mengacu pada salah satu dari beberapa ungkapan terdahulu, seperti "seorang teroris adalah pejuang kemerdekaan orang lain; terorisme adalah pahlawan orang lain," "teroris masa kini adalah pejuang kemerdekaan besok;" dan seterusnya. Ungkapan-ungkapan tersebut, mereka menampakkan, menguraikan secara singkat masalah tersebut menghadapi sarjana yang berusaha untuk menentukan batasan terorisme baik itu bertujuan untuk mengembangkan jenis perjanjian internasional atau untuk melakukan penelitian ilmiah. Terorisme memakai banyak nama dan baru-baru ini menjadi pusat perhatian pemerintahan yang demokratis. Satu pengakuan, terorisme merupakan penggunaan alat-alat yang tidak sah untuk mencapai hasil yang akhir sah (Poland, 1988; Ward law, 1982).

Permasalahan definisi lebih diperburuk oleh pengamat yang sering terlibat dalam siasat retoris yang dikenal umum menanggapi pertanyaan atau tugas oleh pengatur serangan balasan. Kunci taktik ini adalah kecepatan dan fasilitas bahwa ungkapan "tapi kenapa dengan" dapat digunakan, itu adalah,"tapi bagaimana dengan..." yang diikuti oleh beberapa tindakan terorisme atau kekerasan menurut dugaan orang dilakukan oleh "oposisi." Beberapa contoh sebagai berikut:

"Republik Rusia dan KGB mendukung terorisme dunia" Tetapi bagaimana dengan operasi rahasia Amerika Serikat dan CIA di Iran, Cili, Nicaragua, dan El Salvador? "Truk mengebom angkatan laut di Beirut adalah tindakan bodoh terorisme Wanton." Namun, bagaimana dengan angkatan laut yang menjual Kampung Lebanese di Pegunungan Selatan?

"Organisasi pembebasan Palestina merupakan kelompok teroris yang menimbulkan gerakan intifada." Tetapi bagaimana dengan zionisme terorisme pemerintahan militer Israel dalam "mencaplok wilayah"?

Tujuan dari "tetapi bagaimana dengan", menurut Wilson (1981), adalah untuk menghindari diskusi suatu isu khusus dengan mengubah pokok materi sedemikian rupa menyiratkan sifat rendah diri moral dari lawanmu. Lebih dari itu, tanggapan "tetapi bagaimana dengan" menyimpulkan bahwa tugas konter adalah analisator yang tepat untuk pernyataan asli dan, oleh karena itu, tidak ada pembedaan antara pernyataan yang dibuat antara KGB dan CIA, PLO dan Pemerintah Israel, bom mobil bunuh diri, dan pemboman posisi musuh dilaut. Hasilnya adalah bahwa strategi ungkapan "Tapi bagaimana dengan" memandang diskusi yang hampir tidak mungkin sejak argumen yang analitis didasarkan pada keinginan untuk membuat perbedaan yang berguna.

Bagaimanapun, pencarian pengertian terorisme bukanlah suatu latihan yang sia-sia.Ward law (1982; lihat juga Turner, 1991) meyakini bahwa tanpa definisi dasar adalah mustahil untuk mengatakan apakah peristiwa yang kita katakan terorisme adalah ancaman nyata terhadap keseimbangan negara demokratis atau apakah masalah tersebut hanya kejahatan lain yang secepatnya harus dihadapkan oleh sistem peradilan pidana. Masalah pokok dalam mendapatkan definisi yang dapat diterima semua pihak adalah isu moral yang berhubungan dengan terorisme. Sebagaimana pembaca literatur perlu diarahkan; tentu saja ada banyak kerancuan tentang moralitas terorisme dan mengenai arti dari istilah yang berkaitan seperti teror, paksaan, kekuatan, dan kekerasan.

Sejak acuan moral yang kuat untuk politik terorisme dan kekerasan adalah yang paling sering kurang, kita temukan bahwa Palestina mengakui pemboman acak dan penyanderaan dengan mengklaim pengkhianatan Negara Zionis. IRA membenarkan bahwa jebakan pembunuhan prajurit Inggris dengan menyatakan bahwa pasukan Inggris adalah tentara yang menduduki tanah asing dang oleh karena itu mengambil kesempatan di Irlnadia Utara. Angkatan perang Rahasia Armenia untuk Pembebasan Armenia membenarkan pembunuhan korps diplomatik. Turkish oleh kelompok rahasia Turkish Genocide Armenians Pada tahun 1915, daftar terus berjalan. Kebingungan-kebingunan itu , bersamaan dengan penggunaan kata terorisme yang bermakna rendah, membuat masalah definisi hampir tidak dapat dipecahkan. Permasalahan lebih lanjut menjadi lebih buruk oleh penulis menolak untuk mengenali bahwa terorisme bukan sekedar taktik pemberontak atau ektrimis polisi, tetapi juga stategi dari negara. (Becker, 1984; Kegley, 1990; Ra'anan et al., 1986; Sterling, 1980).

Bagaimanapun, dua hal yang umum adalah karakteristik dari semua definisi teror dan terorisme. pertama, terorisme suatu teknik untuk mempengaruhi rasa takut. Teroris berusaha, dengan tindak kekerasan yang tidak pandang bulu, untuk memanipulasi rasa takut dalam mencapai berbagai sasaran politis dan taktis. Wilkinson (1976) menunjuk dan mencatat bahwa kunci dalam mendedfinisikan terorisme terletak pada kerancuan alami dari rasa takut. Masing-masig dari kita memiliki ambang pintu yang berbeda dari rasa takut berdasarkan pada kepribadian dan kebudayaan kita. Imej dan pengalaman tertentu lebih menakutkan dari lainnya, dan hal tersebut tampak mulai bekerja terhadap mereka yang terlibat dalam bisnis terorisme yang mengetahui tombol yang benar untuk mendorong rasa takut. Ward law (1982) meyakini bahwa Hubungan kompleks antara kekuatan dan ketakutan individu sering tidak logis dalam menanggapi rasa takut, menjadikan sulitnya mendefinisikan secara tepat mengenai terorisme dan mempelajarinya secara ilmiah. Karena alasan ini tingkah laku para ilmuwan mengarah kepada penolakan dari definisi terorisme yang secara tepat mencecrminkan subjektivitas dari rasa takut dan metode kekerasan digunakan untuk meningkatkan baik rasa takut secara pribadi maupun bersama-sama.

Bilangan pembagi yang kedua menemukan di banyaknya pengertian mengenai terorisme kebanyakan, tentu saja, pencapaian tujuan politis. Bagaimanapun, jelas dan nyata teror dan terorisme tidak perlu secara politis termotivasi. Sebagai contoh, jenis kejahatan sering memakai taktik teroris untuk keuntungan pribadi. Penjahat melarikan diri dari pertemuan dengan polisi sering mengambil sandera dan berusaha menegosiasikan pelarian mereka. Kenyataannya, 60 persen dari semua peristiwa kejahatan yang mengambil sandera yang terjadi di Amerika Serikat bukan merupakan terorisme politis. Orang-orang yang terganggu secara mental mungkin juga menteror orang lain karena kondisi mereka.

Sebagai contoh, peristiwa paling umum dalam penyanderaan yang terjadi di Amerika Serikat adalah orang yang secara mental disakiti dengan disanderanya anggota keluarga. Demikian juga, pembunuhan politis di Amerika Serikat belum termotivasi oleh konspirasi politik tetapi duka seorang yang bersenjata yang seringkali bertindak sebagai "agen Tuhan". Meski demikian, mungkin beberapa individu menteror orang lain karena mereka memang mereka brutal, sadistis, atau terlibat dalam beberapa jenis aksi kekerasan memprotes masyarakat. Pembedaan berbagai bentuk terorisme belum jelas antara penjahat atau penderita sakit jiwa yang menggunakan taktik terorisme dan mencari pengesahan dengan mengadopsi semboyan politis dan mengaku menjadi aktivis politik. Sebagai tambahan, organisasi teroris sering merekrut dan bekerja sama dengan pelaku tindak pidana dan penderita sakit jiwa.

Secara sederhana ditambahkan bahwa tujuan dari terorisme adalah menteror, dengan mengabaikan alasan. Kelompok teroris pada saat ini menggunakan terorisme sebagai starategi yang lebih dipilih daripada bersembunyi. Teroris menemukan terorisme jauh lebih ekspresif dibanding bentuk lain perselisihan politis. Kekerasan alami teroris yang rutin sering mengakibatkan ketidakmampuan untuk membedakan sepenuhnya antara yang termotivasi politis secara ekstrem dan pembunuh yang berkenaan sakit jiwa tersebut.

Oleh karena itu, pengaruh utama terorisme adalah untuk menciptakan ketakutan dan kegelisahan/rasa tidak aman, dan pusat tindakan terorisme adalah berkaitan dengan alasan politis, terorisme mungkin digunakan untuk mencapai berbagai sasaran. Sebagai contoh, menyebarkan publikasi untuk alasan terorisme, hadiah khusus, provokasi penindasan yang dilakukan pemerintah, pemutusan norma-norma sosial, penegakan ketaatan internal, dan pengambilan sandera, tapi hanya beberapa. Teroris tunggal mungkin saja diarahkan untuk memenuhi beberapa sasaran hasil secara sekaligus. Bagaimanapun, harus ditekankan bahwa terorisme bukan kekerasan yang tidak logis maupun tak beralasan. Terorisme tidak bodoh/lemah, bertindak kejam tanpa pertimbangan. Terorisme sengaja menggunakan strategi dengan pertimbangan waktu.

Mereka memiliki sasaran meskipun mereka sering digelapkan oleh fakta bahwa tindakan teroris tidak dapat di perkirakan, acak, dan tidak pandang bulu. Pembunuhan dan penteroran orang-orang yang tampak tidak bersalah yang mungkin saja tidak ada gunanya bagi mereka mungkin menyebabkan kebingungan siswa peradilan pidana. Terorisme, kemudian, mungkin saja dicirikan sebagai membeda-bedakan kekerasan tidak pandang bulu; dibeda-bedakan sejak memiliki tujuan dan fokus yang terbatas; dan tidak pandang bulu ketika teroris tidak memiliki baik simpati ataupun benci untuk korban yang terpilih acak. Jika terorisme adalah industri yang tumbuh berkembang, maka kita bisa mengatasi peningkatan yang mantap jumlah terorisme untuk tahun-tahun mendatang.

Seperti halnya, siswa kehakiman harus mengenal sifat tersembunyi terorisme, baik dari negara bagian, maupun dari "pemberontak-pemberontak". Permasalahan ini mencerminkan kekurangan utama dalam mempelajari terorisme, yang mana, tentu saja, adalah kesulitan secara operasional untuk mengartikan terminologinya. Pada waktu yang sama, kita perlu sadar akan bahan peledak potensial terorisme menghadirkan kebijakan publik, terutama untuk kebijakan pelaksanaan hukum. Ketika kita berjuang memikirkan kebijakan menangani "terorisme," beberapa pengamatan umum perlu dipertimbangkan.

• Definisi terorisme dicurigai sejak mereka sering digunakan untuk menghukum dan memfitnah musuh politik. Sering kita mengungkapkan pilihan politis kita dengan membedakan tindakan teroris, kita menyayangkan dan oleh mereka kita disiapkan untuk toleransi. Kemudian, kontras menjadi pejuang pembebasan sementara PLO adalah organisasi teroris

• Terorisme bukanlah hal baru dan belum pernah terjadi; terorisme telah digunakan berabad-abad. Menurut sejarah, terorisme sukses di Palestina, Aden, dan Cyprus. Meskipun demikian, dapat dihadapkan, dimasukkan, dan dikalahkan dalam kejadian tertentu. Bagaimanapun, fenomena tersebut mungkin tidak bisa dihapuskan sepenuhnya.

• Dalam masyarakat bebas, media memainkan peran kunci dalam membentuk sikap publik ke arah terorisme dan membangkitkan tekanan kepada pembuat kebijakan bidang pemerintahan untuk menghapuskan ancaman teroris. Salah satu tujuan utama dari tindakan terorisme yang menarik adalah untuk menginformasikan kepada dunia.

• Karena pentingnya, terorisme suatu instrumen efektif untuk menggerakkan pendapat umum dan dapat digunakan untuk menghasilkan dukungan untuk kebijakan luas. Sebagai contoh, pembalasan bom militer atas penggerebekan melawan Libya dipandang sebagai penghalang oleh pemerintah AS. Pemerintah setelah pengumpulan pendapat umum menunjukkan Amerika menuju kearah tindakan tersebut (Adams, 1986). Pada kenyataannya, terorisme berasal dari berbagai sumber yang berbeda, masing-masing mewakili permasalahan politis dan taktis yang berbeda.

• Akhirnya, terorisme menghadirkan permasalahan manajemen peradilan pidana yang serius, sejak kelompok teroris memiliki unsur kejutan dalam bagiannya. Karena itu, pembekuan sasaran dan perencanaan keamanan menjadi sangat sulit , seringkali mengakibatkan reaksi yang kurang baik

James M. Poland

Daftar Pustaka

Adams, J. The Financing of Terror: Behind the PLO, IRA, Red Brigades, and M19 Stand the Paymaster. New York: Simon and Schuster, 1986.

"Armenian Terrorism." The World Today 39 (September 1983):336-350

Becker, J. The PLO: The Rise and Fall of the Palestina Liberation Organization. New York: St. Martin's Press, 1984.

Clark, J.W. American Assassins: The Darker Side of Politics. Princeton University Press, 1982.

Cobban, H. The Palestine Liberation Organization: People, Power, and Politics. Cambridge: Cambridge University Press, 1983.

Crenshaw, M. "The Causes of Terrorism." Comparative Politics 13 (Summer 1981):374-396.

Holland, J. The American Connection: US, Guns, Money, and Influence in Northern Ireland. New York: Viking Press, 1987

Kegley, C.W. International Terrorism: Characteristics, Causes, Controls. New York: St. Martin'ss Press, 1990.

Laqueur, W. The Age of Terrorism. Boston: Little, Brown, 1987.

Lee, A.M. Terrorism in Northern Ireland. New York :General Hall, 1983.

Poland, J.M. Understanding Terrorism: Groups, Strategies, and Responses. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall, 1988.

Ra'anan, U. et al. (ed.). Hydra of Carnage: International Linkages of Terrorism. Lexington, MA: Lexington, 1986.

Schmid, A.P. Political Terrorism. New Brunswick, NJ: Transaction, ,1987.

Sterling, C. The Terror Network: The Secret War of International Terrorism. New York: Holt, Rinehart, and Winston , 1980.

Turner, S. Terrorism and Democracy. Boston: Houghton Mifflin, 1991.

Von Clausewitz, C. On. War. Princeton, NJ: Princeton University Press, 1976.

Wardlaw, G. Political Terrorism: Theory, Tactics and Countermeaseures. Cambridge: Cambridge University Press, 1982.

Wilkinson, P. Political Terrorism. London: Macmillan, 1976.

Wilson, J.Q. "Thinking About Terrorism." Commentary 72 (Juli 1981):43-39.

14 Agustus 2009