You are here: Pencucian Uang
jSharing - JA Teline III

Pencucian Uang

Money Laundering (Pencucian Uang)

Uang yang dihasilkan perdagangan narkoba dan kejahatan lainnya di Amerika Serikat diperkirakan mencapai $300 miliar setiap tahun. Meskipun para analis kesulitan menghitung secara akurat hasil kejahatan yang rapi tersembunyi itu, jumlah tersebut memang mengejutkan. Terlebih lagi dampak “uang kotor” pada perdagangan sah sangat hebat. Relatif tidak terdeteksi, nyaman, dan diterima secara universal, menjadikan uang tunai sebagai alat tukar yang sangat disukai dalam transaksi ilegal. Oleh sebab itu para pedagang obat terlarang dan para pemeras yang menghasilkan uang tunai dalam jumlah sangat besar menghadapi risiko penyitaan dan hukuman serius jika tidak dapat menjelaskan asal usul timbunan uang tunai tersebut.

Para penjahat yang ingin menikmati keuntungan aktivitas gelap itu harus terlebih dulu mengalihkan uang tunai tersebut ke bentuk atau perantara lain. Biasanya dalam bentuk sesuatu yang lebih mudah daripada uang tunai yang digunakan dalam perdagangan sehari-hari, dan sekaligus untuk menghindari dugaan langsung, maupun tidak langsung, jejak uang yang sebenarnya berasal dari aktivitas ilegal.

Pencucian uang adalah istilah yang menjelaskan proses pengubahan aset yang diperoleh secara ilegal berbentuk tunai menjadi bentuk alternatif lain untuk menyembunyikan faktor haram seperti asal-usul aset atau kepemilikan yang ilegal. Akhir-akhir ini, lewat diskusi dan seminar besar, makna istilah tersebut meluas bukan hanya tindakan pencucian uang perorangan, melainkan juga beragam tahap yang rumit ketika mengkonversikan aset ilegal tersebut. Konversi ilegal tersebut melampaui cara-cara penukaran biasa, semakin tidak mencolok, dan metode pembayarannya lebih mudah diterima secara sosial. Meski media banyak mengupas masalah pencucian uang, pengetahuan kita tetap terbatas dan terutama berasal dari upaya penegakan hukum pemerintah federal. Walaupun badan penegakan hukum negara bagian dan lokal di Florida, Arizona, dan beberapa negara lain semakin aktif dalam memerangi tindak kejahatan pencucian uang, kepemimpinan masih tetap dipegang oleh pemerintah federal. Alasan utamanya karena tugas dan prioritas Pemerintah Federal adalah melacak pergerakan internasional uang hasil narkoba, apakah kembali ke kartel Kolombia atau sumber asing lainnya.

The Money-Laundering Process (Proses Pencucian Uang)

Jumlah tahap yang terlibat dalam skema pencucian uang, secara langsung berkaitan dengan jarak yang ingin ditempuh para penjahat. Jarak itu adalah jarak antara uang tunai yang diperoleh secara ilegal sampai menjadi aset hasil pencucian uang tunai ilegal tersebut. Faktor paling pokok dalam skema pencucian uang adalah konversi uang kontan ke aset lain, biasanya menggunakan cara pembayaran alternatif, sehingga para penjahat itu dapat dengan mudah menyembunyikan asal usul dan menikmati uang kontan dengan lebih leluasa. Bank dan sejumlah lembaga keuangan lain secara rutin mengeluarkan instrumen yang dapat dirundingkan, seperti cek bank atau pos wesel, untuk ditukarkan dengan uang tunai. Dari perspektif bandar narkoba atau penjahat terorganisasi lainnya dan para pelaku pencucian uang yang melayani mereka, instrument yang mudah dirundingkan itu memenuhi dua kriteria pokok: (1) instrumen tersebut adalah bearer instrument (instrumen yang memerintahkan lembaga keuangan untuk mengeluarkan dana bagi pembawa surat berharga, cek, atau wesel). Dengan instrumen itu, si pembawa dapat menggunakannya dalam perdagangan tanpa perlu mempersoalkan kepemilikan asal surat berharga, cek, atau wesel tersebut; (2) instrumen tersebut adalah aset cair, yang membuat pemiliknya dapat menggunakan aset itu dengan segera. Meski transaksi dengan lembaga keuangan merupakan tahap dasar yang paling umum dalam pencucian uang, jasa pengubahan aset oleh institusi komersial lainnya juga diperlukan agar kekayaan yang diperoleh secara ilegal tersebut menjadi lebih sulit dilacak.

Tahap berikutnya adalah menggunakan dana yang telah melalui pencucian uang tersebut untuk memperoleh satu atau lebih aset. Akuisisi aset membuat para penjahat memperoleh sumber pemasukan yang tampak tidak punya kaitan dengan aktivitas kejahatan apa pun. Penggunaan bisnis sah dan transaksi legal untuk mencuci uang merupakan salah satu metode paling kuno. Bisnis yang sah membuat si penjahat menjadi pencipta lapangan pekerjaan dan menumbuhkan citra terhormat bagi dirinya. Bisnis tersebut menghasilkan pemasukan yang dapat dilaporkan untuk keperluan pajak, meski para penjahat sering hanya melaporkan sejumlah kecil dari pemasukan sesungguhnya. Bisnis yang paling populer berkaitan dengan pencucian uang adalah bisnis yang melibatkan uang tunai dalam jumlah besar, sehingga sulit memperoleh data akurat tentang jumlah pemasukan yang sesungguhnya. Bisnis tersebut antara lain bar, restoran, dan hiburan. Kegiatan bisnis resmi menjadi tempat yang aman bagi berbagai aktivitas kriminal seperti penimbunan barang curian. Pembelian real estate juga merupakan cara lain pencucian uang yang sangat menarik karena dua alasan. Pertama, sebagai suatu investasi, real estate punya kecenderungan meningkat nilainya dan merupakan jenis investasi yang digemari. Real estate merupakan aset tetap yang menawarkan sejumlah keuntungan pajak, mulai dari depresiasi properti pada masa hidup aset sampai pengurangan pajak untuk pembayaran bunga (yang umumnya fiktif karena dasar pinjaman real estate yang curang). Kedua, sebagai tambahan penghasilan yang tetap jika real estate itu disewakan dalam pembukuan.

Tahap berikutnya adalah melikuidasi aset yang dicuci dengan mengubahnya ke bentuk tunai. Langkah ini melengkapi proses pencucian uang yang paling standar dengan mengubah aset ke dalam bentuk cair untuk digunakan dalam aktivitas sah atau kriminal, atau untuk konsumsi barang atau jasa yang hanya meninggalkan sedikit catatan. Para penjahat semakin sering menggunakan bank untuk mengalihkan dana keluar wilayah mereka, sering ke negara lain, tempat dana itu diubah menjadi uang tunai pada tahap akhir.

Laundering Specialists (Spesialis Pencucian Uang)

Nyaman, cepat, dan rahasia adalah ciri transaksi keuangan zaman modern yang membuat “pencucian uang” sangat mudah dilakukan para penjahat. Namun, karena banyak penjahat takut terdeteksi melakukan transaksi pencucian uang, mereka mulai menggunakan berbagai spesialis pencucian uang. Para spesialis tersebut menjual jasa mereka kepada penjahat, sering dalam bentuk paket multilayanan, atau juga hanya membantu dalam satu atau dua tahap saja dari proses pencucian uang yang rumit.

Ada tiga jenis utama spesialis pencucian uang. “Kurir” mengatur transportasi penukaran mata uang di tempat pencucian uang, artinya uang tunai diubah ke bentuk pembayaran lain, seperti wesel. Kurir yang bekerja untuk para pedagang asing mungkin menyelundupkan keluar Amerika Serikat, ke yurisdiksi asing yang aman, tempat transaksi pencucian uang diselesaikan. Nilai tambah kurir terletak pada legitimasi dan tidak adanya hubungan dengan pemilik asal uang tersebut. Mereka bahkan mungkin tidak tahu pemilik uang yang sedang mereka alihkan. “Spesialis penukaran mata uang” mengoperasikan binis formal atau informal yang berpura-pura legal atau semata-mata hanya melayani klien yang ilegal. Pertukaran yang sering terjadi adalah casas de cambio dari dolar ke peso. Biasanya casas adalah pertukaran mata uang sah yang digunakan para penjahat untuk mendapatkan layanan semi-perbankan. “Profesional kerah putih”, seperti pengacara dan akuntan, menyediakan jasa konsultasi investasi, menciptakan calon rekening, menangani pemindahan dana lintas negara, dan menggunakan skema penghindaran pajak di yurisdiksi asing. Jasa utama mereka adalah memanipulasi prosedur keuangan, perdagangan, dan hukum untuk menyembunyikan asal usul pemilik aset yang sebenarnya.

Para spesialis yang mencuci uang untuk banyak organisasi kriminal sering membentuk organisasi informal untuk menyediakan layanan tersebut. Tidak seperti mafia, yang dijalankan secara bersama-sama dengan aturan hirarkis yang kaku, di sini ada koalisi longgar yang disatukan oleh kesepakatan dan terkait pada tujuan bersama, yakni menciptakan pemasukan tetap yang menguntungkan. Jarang terjadi organisasi pencucian uang beroperasi sebagai unit bawahan organisasi kriminal yang mereka layani. Mereka lebih berfungsi sebagai kumpulan orang bebas yang dapat menjual jasa mereka dalam jangka panjang atau cukup sekali saja kepada organisasi kriminal. Para spesialis tersebut dapat bekerja untuk lebih dari satu organisasi kriminal sama halnya untuk penjahat tingkat tinggi yang mengelola organisasi independen, seperti penyelundup narkoba dan bandar yang menimbun aset besar.

Tracking Operations (Melacak Pencucian Uang)

Kriminal terorganisasi, nyaris di semua tingkat operasional, ingin segera mengakses dan menggunakan hasil kegiatan haram mereka. Terutama pada tingkat bandar narkoba, pemeras, atau pengedar narkoba, yang selalu menyediakan dana segar untuk operasi mereka, juga melakukan pencucian uang dari sebagian dana mereka. Fakta ini mungkin sering diabaikan oleh media dan penegakan hukum federal yang memberi perhatian kepada dimensi kegiatan pencucian uang internasional. Karena keberagaman praktik kriminal, dan ketidaklengkapan data intelijen tentang kegiatan kriminal yang canggih, maka sulit untuk memperkirakan ukuran dan lingkup suatu kegiatan ilegal. Meski sulit memperoleh informasi tentang jumlah transaksi, laporan intelijen tentang aktivitas pencucian uang memberikan salah satu indikator terbaik tentang jangkauan aktivitas kriminal. Para pejabat Departemen Keuangan AS berhasil menghukum Al Capone karena penghindaran pajak, meski petugas gagal menuntutnya dengan tuduhan pemerasan, pembunuhan, dan kejahatan kejam lainnya. Fokus terhadap pencucian uang memungkinkan penegakan hukum negara bagian dan lokal untuk menggunakan pendekatan yang sama dalam melengkapi investigasi kejahatan terorganisasi atau kejahatan narkoba, yang melibatkan penipuan pajak dan aspek bisnis haram.

Kampanye penegakan hukum melawan pencucian uang yang berkesinambungan mungkin mendorong para profesional kerah putih untuk menarik layanan ilegal mereka, atau meminta bayaran sangat tinggi. Situasi tersebut dapat mendorong peningkatan orang tamak baru, yang belum berpengalaman, sehingga hasil kejahatan menjadi lebih sering disita. Semakin banyak negara bagian yang kini mempunyai undang-undang yang mengizinkan penyitaan aset yang berasal dari aktivitas kriminal yang langsung maupun tidak langsung. Personel penegakan hukum yang menyita aset “pencuci” hasil kejahatan sekarang mempunyai pilihan, berdasarkan undang-undang negara bagian yang telah diperluas, untuk menyita lebih banyak jenis aset mahal seperti rumah atau mobil mewah, rekening bank dan sekuritas, serta properti. Penyitaan aset merupakan salah satu senjata paling ampuh bagi penegakan hukum untuk melawan kejahatan bermotif ekonomi. Selain menghasilkan dana bagi penegakan hukum, penyitaan memungkinkan pemerintah menelanjangi hasil kejahatan dan menyita aset seperti perlengkapan dan suplai yang digunakan untuk memfasilitasi proses manufaktur, distribusi, dan penjualan komoditas ilegal. Puncaknya, pendekatan tersebut dapat membuat para penjahat terkena pajak pendapatan 100% dari pendapatan mereka. Pajak pendapatan 100% jelas melemahkan semangat orang untuk tetap menjalankan bisnis seperti itu.

Initiatives for Detection (Upaya Pendeteksian)

Jejak dokumen seputar tahap pencucian uang merupakan sumber utama pengumpulan informasi intelijen.

Upaya pengumpulan informasi intelijen tersebut meliputi:

• Mendorong lembaga keuangan untuk melaporkan transaksi tunai berjumlah besar.

• Mengidentifikasi spesialis pencucian uang yang terindikasi melayani bisnis seperti itu pada pasar setempat.

• Terus mengikuti transaksi keuangan yang diatur oleh orang yang dicurigai sebagai pakar dalam pencucian uang.

• Menyelidiki aset yang diperoleh dengan melibatkan uang tunai dalam jumlah besar atau pengaturan lain yang berasal dari praktik rutin sejenis.

Untuk mematuhi undang-undang federal, transaksi mata uang yang dilakukan oleh lembaga keuangan harus dicatat pada formulir Federal Currency Transaction Report (CTR).

Untuk memperkecil risiko terdeteksi karena mematuhi prosedur, para penjahat yang mencuci uang mereka dan profesional pencucian uang yang melakukannya, sering memalsukan informasi pada CTR atau berusaha tidak mengisi semua formulir yang disyaratkan. Berikut sebagian teknik yang sering digunakan untuk mengelabui prosedur CTR:

• Menyembunyikan atau memalsukan kepemilikan dana yang dialihkan, atau memberikan data identifikasi palsu.

• Memanfaatkan hubungan korup dengan pegawai lembaga keuangan agar tidak mengisi CTR atau memastikan bahwa formulir yang diisi tidak diajukan ke Departemen Keuangan.

• Mengganti kurir sesering mungkin untuk menyembunyikan transaksi dalam jumlah besar yang sedang dilakukan oleh satu orang.

• Memecah volume transaksi mata uang menjadi beberapa transaksi yang bernilai lebih kecil dari $10.000 AS (batas volume transaksi yang harus dicatat dalam CTR). Transaksi seperti itu disebut “transaksi terstruktur” atau “smurfing” (berasal dari kata “smurf”, mahluk liliput dalam komik Smurf).

Untuk mendapatkan gambaran strategis transaksi tunai berjumlah besar yang mungkin menutupi aktivitas pencucian uang, sejumlah badan penegakan hukum negara bagian membuat kesepakatan dengan Departemen Keuangan untuk memperoleh data CTR yang melibatkan transaksi seperti itu untuk kepentingan negara bagian. Data tersebut dianalisis untuk mendapatkan pola dan kecenderungan yang mengidentifikasi lembaga keuangan ataupun individu yang melakukan transaksi tunai dalam jumlah besar. Selain itu, beberapa negara bagian mengesahkan undang-undang yang mengharuskan lembaga keuangan melaporkan transaksi yang mencurigakan dengan mendapat imunitas dari gugatan hukum. Laporan awal memberi kesan bahwa kuantitas laporan transaksi yang mencurigakan masih rendah (dibandingkan dengan volume CTR). Tetapi kualitasnya terhitung tinggi, yang mengarah pada kemungkinan aktivitas pencucian uang. Laporan transaksi mencurigakan membantu badan penegakan hukum untuk menemukan “jarum di tumpukan jerami”.

Investigative Techniques (Teknik Investigasi)

Penyelidikan pencucian uang biasanya menerapkan teknik investigasi kejahatan kerah putih. Penting bagi badan penegakan hukum untuk melacak pola keuangan dan kepemilikan aset yang sedang diselidiki. Hal itu membantu para penyelidik mendokumentasi ketidaksesuaian antara jumlah pemasukan dan aset lain yang dikumpulkan tersangka, membandingkan dengan jumlah yang dilaporkan yang dapat diverifikasi melalui catatan pekerjaan yang sah. Bukti seperti itu menjadi andalan sejumlah teknik investigasi IRS yang dikenal sebagai metode “net worth” dan semakin banyak digunakan dalam penuntutan perkara pencucian uang di tingkat federal dan negara bagian. Operasi mendadak juga dilakukan untuk mendapatkan keuntungan. Personel menyamar sebagai penjahat untuk mencari tahu layanan pencucian uang atau, yang lebih sering, sebagai pelaku pencucian uang yang ingin memberikan jasa mereka kepada para bandar narkoba untuk membantu memindahkan uang mereka dan mendepositokannya di bank atau institusi lain.

Penyadapan yang diizinkan pengadilan merupakan teknik paling efektif untuk investigasi pencucian uang. Namun teknik itu membutuhkan banyak tenaga kerja dan makan waktu, dan banyak badan penegakan hukum hanya mempunyai sedikit pengalaman menggunakan teknik tersebut terhadap penjahat kerah putih. Dalam hal undang-undang, staf, dan batasan lain menyulitkan investigasi pencucian uang secara langsung, pelanggaran dapat diinvestigasi secara tidak langsung sebagai bagian investigasi kejahatan yang sesungguhnya. Ada dua keuntungan memasukkan investigasi pencucian uang ke dalam investigasi kejahatan lain. Pertama, pendekatan investigasi kejahatan keuangan ditambahkan ke investigasi perdagangan narkoba dan kejahatan terorganisasi. “Front kedua” itu menunjukkan peluang tambahan untuk mendapatkan bukti bagi aktivitas yang ditargetkan ataupun kejahatan terkait. Keuntungan lain adalah investigasi keuangan memudahkan penyitaan aset yang diikuti dengan pengenaan tuduhan tindak pidana.

Legal Framework (Kerangka Hukum)

Berdasarkan kerangka hukum negara bagian, pelanggaran undang-undang yang melibatkan pencucian uang mungkin mencakup konspirasi, persekongkolan, penipuan, dan pelanggaran pajak. Sejumlah peraturan negara bagian yang inovatif telah ditetapkan setelah adanya undang-undang federal tahun 1986 tentang pencucian uang 1986 dan sejumlah undang-undang antipemerasan lainnya. Negara Bagian California, Arizona, New York, Florida, dan 14 negara bagian lain memberlakukan undang-undang yang secara khusus menghukum konversi properti yang diperoleh melalui tindakan kriminal ke dalam bentuk aset lainnya.

Undang Undang Negara Bagian Arizona adalah salah satu yang paling lengkap. Karena pencucian uang merupakan kejahatan dalam Arizona’s Recketeering Act, tindakan hukum perdata ataupun pidana terhadap pelaku kejahatan itu juga tersedia. Tindakan hukum tersebut meliputi pengadilan perdata mengenai jumlah keuntungan yang diperoleh dan penyitaan hasil pencucian uang dan hasil kejahatannya. Undang-Undang tersebut juga meningkatkan derajat kejahatan pencucian uang jika orang “dengan sengaja mengupayakan, mengorganisasikan, merencanakan, membiayai, mengarahkan, mengelola, mengawasi, atau terlibat dalam bisnis pencucian uang”. Ketentuan itu ditujukan pada para spesialis seperti pengacara, penasihat keuangan, pialang real estate, bankir, dan pelaku casas de cambio. Selain itu, beberapa negara bagian memberlakukan peraturan yang ditetapkan setelah adanya Bank Secrecy Act tahun 1970 dan mensyaratkan pelaporan transaksi dalam jumlah besar, atau mengharamkan aktivitas yang memfasilitasi pencucian uang. Aktivitas seperti itu merupakan kegiatan yang tidak diatur undang-undang dari suatu bisnis jasa keuangan, seperti pembayaran cek dan pertukaran mata uang. Aktivitas tersebut juga tidak mengungkapkan pemilik dan para pihak terkait dalam pembentukan korporasi. Sedikitnya 16 negara bagian telah memberlakukan undang-undang yang mengatur kejahatan pencucian uang.

Bila bandar narkoba mengalihkan kegiatannya menjauh dari lokasi yang menimbulkan risiko besar akibat tekanan penegakan hukum, maka operasi pencucian uang juga akan dipindahkan. Bila operasi pencucian uang dilakukan di lebih banyak negara bagian dan meluas ke banyak komunitas setempat, maka problem berskala nasional akan jatuh ke pundak badan penegakan hukum lokal dan negara bagian.

Clifford Karchmer

Douglas Ruch

Daftar Pustaka

Block, Alan A. Masters of Paradise: Organized Crime and the Internal Revenue Service in the Bahamas. New Brunswick, NJ: Transaction Publishers, 1991.

Ehrenfeld, Rachel. Evil Money: Encounters along the Money Trail. New York: Harper Business Books, 1992.

Hughes, S.J. “Policing Money Laundering through Funds Transfers: A Critique of Regulation under the Bank Secrecy Act.” Indiana Law Journal 67 (Winter 1992):283"330.

Karchmer, Clifford. Illegal Money Laundering: A Strategy and Resource Guide for Law Enforcement Agencies. Washington, DC: Departemen Kehakiman AS, Biro Bantuan Keadilan, 1998.

_____ dan Douglas Ruch. “State and Local Money Laundering Control Strategies.” NIJ Report. Washington DC: Departemen Kehakiman AS, Institut Keadilan Nasional, 1992.

Morgan, P.T. “Money Laundering: The Internal Revenue Service, and Enforcement Priorities.” Florida Law Review 43 (Desember 1991):939"990.

Naylor, R.T. Hot Money dan the Politics of Debt. New York: Linden Press, Simon dan Schuster, 1987.

Powis, Robert E. The Money Launderers: Lessons from the Drug Wars, How Billions of Illegal Dollars are Washed through Banks & Businesses. Chicago: Probus, 1992.

14 Mei 2009